coba klik salah satu icon di bawah gambar pasti seru

Rabu, 25 Januari 2017

Alasan Warga Pande Tidak Boleh Memakan Ikan Gabus (Be Jajung)

Sameton Pande pasti sudah banyak yang tau kalau warga Pande tidak dizinkan memakan daging ikan jeleg/deleg (ikan gabus). Tapi apakah setiap keluarga yang melarang keluarganya memakan be jeleg menjelaskan kenapa warih Pande tidak diperkenankan memakan ikan jeleg? Seperti kami sendiri, banyak yang orang tua kami yang sama seperti kami, "Nak keto pabesen lingsir-lingsire pidan, jeg tuutin da bana nglawan, nyanan kena pamastu!," begitulah orangtua sering mengatakan karena ketidak tahuannya dan kami pun mengikutinya. Namun di zaman sekarang, anak muda yang enerjik dan penuh rasa ingin tahu tak cukup diberikan jawaban "nak mula keto", mereka selalu ingin mencari jawaban atas segala pertanyaan di otaknya agar tidak selalu terkukung oleh dogma nak mula keto.
Lalu kenapa Warga Pande tidak boleh makan be jeleg? 
Sebenarnya larangan ini ada dalam salah satu bhisama Warga Pande yaitu pada larangan Asta Candala. Beginilah ceritanya :
Pada tahun 1556 Masehi, ketika terjadi pembrontakan atas pemerintahan Dalem Bekung yang dilakukan oleh Arya Batan Jeruk ( keturunan arya kepakisan ) sehingga Arya Batan duanggap Angesti Muji Dadia Sang Prabu. (bercita-cita ingin menjadi Raja).
Akhirnya Arya Batan Jeruk tewas setelah di kejar sampai Bonganya, Karangasem. Pembrontakan selanjutnya dilakukan oleh Kyayi Pande Bhasa, yang terlibat pembrontakan ini dalah Keluarga Pande Capung yang didukung keluarga besar. Kerajaan Gelgel terpecah belah terutama keturunan Majapahit. Mereka menegaskan jati diri, karena ada unsur saling curiga. Para Pasek dan Pande mebantu penguasa yang dekat sama mereka.
Ketika pembrontakan dapat di padamkan yang memihak raja tetap tinggal di Gelgel dan yang memihak para pembrontak mengungsi dan menyelamatkan diri. Karena keterlibatan para Pande terutama di Klungkung. Sewaktu-waktu para Pande dapat terbunuh.
Sang Bhagawan sebagai penasehat Raja bercerita kepada Raja bahwa Penyebab Kekacauan yang merajarela adalah Sira Pande, "nak I Pande sane ngaryanin Sanjata nu idup, ipun sane ngranayang wenten perang, yen I Pande ten wenten, sinah ten wenten perang". Menurut Bhagawan Sira Pande yang membuat senjata ke sana ke mari dan meyakinkan raja bahwa Sira Pande menyebabkan hal itu dan menyarankan membunuh semua Pande sampai habis karena jadi biang keladi. 
Ida Dalem menerima saran dari sang bhagawan dan memerintahkan membunuh seluruh Warga Pande baik yang kecil, bayi, muda, tua tanpa pri kemanusiaan. Sehingga banyak warga Pande yang kalang kabut dikejar-kejar oleh pasukan kerajaan, bahkan rela nyineb wangsa, menghilangkan nama Pande dan tidak mengaku sebagai warga Pande agar bisa bertahan hidup. I Pande yang tak mau meninggalkan leluhur dan tetap mengaku sebagai  Warga Pande terus berlarian bersembunyi dari orang-orang yang memburu I Pande. Satu per satu mereka ditemukan dan dibunuh.
Tetapi atas perlindungan Ida Ratu Bagus Pande ada seorang warga Pande masih hidup. Warga pande itu dilindungi dan di sembunyikan oleh Jangga Wadita (be jeleg) di bawah air terjun di Sawah Gambangan. Orang yang memburu warga Pande itu berpikir tidak mungkin si Pande bersembunyi di telaga itu. Ikan yang ada di telaga itu tidak beranjak pergi. Jika air terjun ini menjadi persembunyian si Pande sudah pasti ikan Gabus yang mengambang di telaga ini akan pergi dan gelombang air pun tidak ada sama sekali. Dengan mengalami kejadian itu si Pande bersumpah sampai keturunannya tidak akan memakan ikan Gabus. Itulah sedikit sejarahnya kenapa kita dilarang memakan "BE JELEG" atau IKAN GABUS.
Sumber : http://pandetamanbali.blogspot.co.id
               http://dharma-buana.blogspot.com/2017/01/alasan-mengapa-warga-pande-tidak-boleh.html

Sabtu, 10 Desember 2016

MITOLOGI TUMPENG PINGIT DI PURA GUMI BEBANDEM



  
Sebelum adanya Raja Bali menganugrahkan prasasti Bahung Teringan dan merestui kawasan menjadi Desa Adat Bahung Teringan, di kawasan ini telah ditemukan sebuah bangunan suci tempat pemujaan yang bernama Wihara Bahung. Wihara ini diyakini didirikan oleh seorang Brahmana Budha yang bernama Dangyang Dwijakangka yang berasal dari Kerajaan Kalingga (Jawa). Di tempat ini Danghyang Dwijakangka melakukan wana prasta nangun yoga semadi.
Setelah berjalan beberapa tahun, tidak ada yang mengetahui keberadaan Danghyang Dwijakangka. Krama desa juga tidak ada yang mengetahui kapan dan kemana Beliau pergi. Sejak saat itu krama desa yang berjumlah 40 orang tetap melakukan pemujaan di tempat itu. Pada suatu hari, ditempat itu terlihat seorang wanita yang memiliki wajah yang sangat cantik, menandingi wajah seorang bidadari. Krama desa tidak ada yang mengetahui, mereka pun bertanya siapa dan dari mana wanita cantik itu. Tidak ada seorang pun dari krama desa 40 orang yang berani menyapa wanita itu. Setelah berjalan beberapa waktu, wanita tersebut terlihat sedang mengandung. Krama desa semakin resah dengan keadaan tersebut, mengingat wanita itu tidak memiliki suami.
Diceritakan wanita cantik itu sedang hamil besar dan melahirkan anaknya di sungai dekat dengan Wihara Bahung (tepatnya di sungai krekuk yang berada disebelah timur wihara). Bayi tersebut dilahirkan di atas batu besar yang bentuknya pipih. Ketika bayi itu lahir, batu besar tersebut pecah. Tangisan bayi tersebut didengar oleh seorang laki-laki yang sedang nyeser (mencari ikan di sungai). Laki-laki tersebut bertanya kepada wanita cantik itu, akan tetapi beberapa pertanyaannya tidak dijawab. Pada akhirnya wanita cantik tersebut menghilang. Laki-laki itu bingung, dia berusaha untuk membersihkan bayi dengan air sungai yang datangnya dari barat laut hulu sungai. Bayi tersebut selanjutnya dipelihara dan diberi nama Teruna Gede Bagus. Bayi ini sangat berbeda dengan bayi kebanyakan. Dia memiliki kekuatan makan yang sangat luar biasa sampai pada akhirnya pengasuh bayi tersebut merasa kewalahan untuk memberikan makan. Pengasuh bayi tersebut mempunyai inisiatif untuk menyerahkan bayi tersebut kepada krama desa.  Namun desa adat juga mengalami kesulitan untuk memberikannya makanan.
Pada suatu hari, krama desa di bawah pimpinan Gede Pasek Tegeh yang didampingi oleh Ki Kebayan Sakti mengadakan pertemuan untuk membahas tentang Teruna Gede Bagus. Hasil pertemuan memutuskan bahwa krama desa sepakat akan mengadakan eka winaya untuk membunuh Teruna Gede Bagus tersebut ke dalam sebuah sumur. Teruna Gede Bagus dipanggil Jero Bendesa untuk membersihkan dirinya ke dalam sebuah sumur. Sebelum itu dia harus membuat sumur yang dalam sampai keluar air. Sumur itu berada di Pura Gumi, tepatnya di sebelah Timur Laut yaitu terletak di Pura Taman sekarang. Pada saat Teruna Gede Bagus itu sedang asyik membuat sumur, krama desa 40 yang berjumlah orang mengubur Teruna Gede Bagus di dalam sumur yang dibuatnya sampai rata dengan tanah.
Krama desa 40 orang pun istirahat sejenak. Namun, tiba-tiba bumi bergetar seperti adanya gempa yang sangat dahsyat. Bangunan suci pun runtuh semuanya. Tidak ada yang percaya kalau yang menyebabkan bumi bergetar adalah Teruna Gede Bagus yang semula dikubur di dalam sumur ternyata bisa meledakkan sumur dan dia bisa berdiri dengan tegak di atas sumur sambil tersenyum-senyum. Teruna Desa Bagus baru mengetahui, bahwa dirinya akan dibunuh di dalam sumur oleh krama desa. Akan tetapi Teruna Desa tidak bisa dibunuh dengan senjata, tidak bisa dibakar dengan api. Teruna Gede Bagus meminta kepada Jero Bendesa, “yen kenten tetujon desane, tiang nunas ring Jero Bendesa, yen sampun tiang tuun ring semere, derika praline tiang ngangen aksara. ring Jero Kebayan, buin pidan nyidaang desane mekarya meaci-aci, tangiang tiang aji Tumpeng lelima, pinaka perlambang linggan Panca Maha Mertha (kalau itu tujuan desa, saya minta kepada Jero Bendesa, kalau saya sudah turun ke sumur, disana bunuhlah saya dengan aksara. Untuk Jero Kebayan, kapan desa bisa melaksanakan upacara (aci-aci), pada saat itu buatkan saya dengan Tumpeng 5 buah, sebagai lambang Panca Maha Mertha). Selajutnya Teruna Gede Bagus turun ke dalam sumur, Jero Bendesa, Ki Kebayan Sakti dan krama desa mulai mempersiapkan upacara pralina (Sukarti, Wawancara 26 Juli 2012).
Setelah kejadian itu, desa mulai melakukan pertemuan untuk membahas pembangunan kahyangan di desa adat. Cerita tersebut merupakan asal mula pembuatan Tumpeng Pingit yang dipersembahkan pada acara Ngusaba Gumi di Desa Pakraman Bebandem. Tumpeng tersebut berjumlah 5 buah sebagai lambang Panca Maha Mertha.

Sabtu, 03 Desember 2016

Gambaran Umum Desa Bebandem




Sejarah Desa Pakraman Bebandem
Desa Adat Bebandem pada zaman dahulu bernama Desa Adat Bahung Teringan. Pusat kepemerintahannya terletak di Banjar Tihingan, tepatnya di Pura Panti sekarang. Pada tahun icaka 1103, Raja Bali menganugrahkan sebuah prasasti yang bernama prasasti Bahung Teringan. Pada saat itu kawasan ini disahkan menjadi desa adat yang bernama Desa Adat Bahung Teringan. Prasasti tersebut disimpan di Pura Gumi, dan dikeramatkan sampai sekarang.
Dari cerita tersebut di atas, maka sebuah nama Tihingan berasal dari kata Teringan (prasasti), sedangkan kata panti yaitu pura panti merupakan tempat berkumpulnya atau tempat perarem para pendahulu Desa Adat. Pada awalnya desa adat berjumlah 30 orang, selanjutnya bertambah menjadi 40 orang, yang sekarang menjadi Krama Muwed 40 orang. Dari panti inilah prosesi atau paruman-paruman dalam upaya untuk mewujudkan desa adat. Setelah melakukan beberapa pertemuan akhirnya Raja Bali mengijinkan krama 40 orang untuk mengambil Bale Agung yang semula berada di Desa Komala, untuk digunakan sebagai Bale Agung Desa Adat Bahung Teringan. Namun krama desa 40 orang sangat yakin kalau Desa Komala tidak akan memberikannya. Pada suatu malam, dengan segala persiapan dan didukung oleh kekuatan gaib, krama desa 40 orang yang dipimpin oleh Jero Bendesa (Gede Pasek Tegeh) berangkat menuju Desa Komala dan mengambil Bale Agung tersebut.

Krama Desa 40 orang yang dipimpin oleh Gede Pasek Tegeh dan didampingi oleh Jero Kebayan Sakti, berhasil mengangkat Bale Agung tanpa melepas peralatannya. Bale agung berhasil diangkat dan diseberangkan ke barat sungai Krekuk, selanjutnya berhenti di Desa Tatag. Pada saat Bale Agung itu diangkat, krama Desa Komala tertidur lelap, sehingga keesokan harinya Bale Agung telah hilang. Di Desa Tatag inilah selanjutnya Bale Agung tersebut disembunyikan, karena malam sudah menjelang pagi, kekuatan-kekuatan gaib telah berkurang. Selama disembunyikan di Desa Tatag, masyarakat Komala juga tidak mengetahui keberadaan Bale Agung tersebut. Kemudian Krama Desa 40 orang memilih malam yang baik untuk melanjutkan mengangkat Bale Agung tersebut sampai di Panti.
Diceritakan sampailah Bale Agung tersebut di Panti (Pura Panti sekarang). Panti inilah yang menjadi pusat pemerintahan Desa Adat Bahung Teringan. Setelah berjalan beberapa lama, Krama Desa 40 orang melakukan paruman untuk memindahkan Bale Agung tersebut ke Bebalang (Bebandem sekarang). Adapun yang menjadi dasar pertimbangan seperti : (1) agar keberadaan Bale Agung jauh dari Desa Komala, (2) agar Pura Kahyangan Tiga seperti Pura Dalem dekat dengan setra, serta setra harus di teben desa, 3) dekat dengan Pura Gumi, 4) agar kahyangan tiga strategis sesuai dengan Padma Bhuana Besakih.
Pada suatu hari, krama Desa 40 memindahkan Bale Agung dari Panti ke Bebalang dan menetap sampai sekarang di Bebandem. Seiring dengan berjalannya desa adat, keadaan penduduk juga bertambah dan membuat kelompok-kelompok yang disebut dengan banjar, yang terdiri dari 6 kelompok yaitu: Tihingan, Bebandem, Kayuputih, Tunggak, Dukuh, Nagasari. Selanjutnya banjar tersebut juga mengalami perkembangan. Tihingan menjadi 3 banjar, Bebandem menjadi 2 banjar. Sehingga Desa Adat Bahung Teringan terdiri dari 9 banjar.
Sekitar tahun Caka 1700, Desa Adat Bebandem mengalami permasalahan dengan Banjar Adat Dukuh, Banjar Adat Nagasari, dan Banjar Adat Tunggak. Akan tetapi permasalahan tersebut berhasil diselesaikan oleh Raja Karangasem yaitu Ida I Gusti Ngurah. Raja Karangasem memberikan keputusan terhadap Banjar Adat Dukuh, Banjar Adat Nagasari, dan Banjar Adat Tunggak untuk nyabu ke Desa Adat yang disebut Banjar Adat Sesabu Dukuh, Banjar Adat Sesabu Tunggak, dan Banjar Adat Sesabu Nagasari, serta ketiga banjar adat tersebut mempunyai hak dan kewajiban yang sama di Desa Adat Bebandem.
Pada saat sekarang, semua banjar sudah disamakan menjadi Banjar Pakraman dan tidak ada lagi sebutan nama sesabu. Kurang lebih Isaka 1700 di Desa Adat Bebalang mengalami pergolakan sehingga terjadi krisis kepemimpinan, maka krama desa 40 orang datang ke Banjar Adar Sesabu Dukuh Nagasari memohon agar keturunan dari Sang Putus I Gusti Bebandem menjadi pemucuk/bendesa. Maka sejak saat itulah Desa Adat Bebalang berubah menjadi Desa Adat Bebandem. Perubahan nama Desa Adat Bebandem tersebut sebagai perwujudan rasa hormat Krama Desa Bebandem kepada keturunan I Gusti Bandem, yang pada saat itu dimohon menjadi pemucuk/bendesa. Kata Bebandem berasal dari dua suku kata yaitu be dan bandem. Be diambil dari kata depan Bebalang, sedangkan Bandem diambil dari kata nama belakang I Gusti Bandem. Dengan penyandian (penambahan) menjadi Bebandem. (Sukarti, Wawancara tanggal 1 Maret 2012).

Letak Geografis Desa Pakraman Bebandem
Secara Geografis Desa Pakraman Bebandem, Kedesaan dan Kecamatan Bebandem Kabupaten Karangasem berjarak 8 km dari kota Amlapura, serta 80 km dari arah timur kota Denpasar. Desa Pakraman ini memiliki luas wilayah 1.089.892 ha. Untuk lebih jelannya, lokasi penelitian akan penulis uraian dalam sub bahasan geografis desa dan keadaan penduduk diperoleh dari Profil Desa Desember 2009.
Desa Pakraman  ini memiliki luas  wilayah 1.089.892 hektar, yang telah dimanfaatkan untuk  perumahan  seluas 27.898 hektar (2,56%), untuk persawahan seluas 229.729 hektar (21,08%), untuk perkebunan seluas 790.757 hektar (72,55%), untuk kuburan seluas 2.500  hektar (0,23%), untuk pura seluas 15.200 hektar(1,39%), untuk lapangan seluas 1.000 hektar (0,09%), untuk pasar seluas 1.426 hektar (0,13%), untuk Kantor Desa dan gedung sekolah seluas 21.382 hektar(1,96%). Desa Pakraman Bebandem ini merupakan wilayah dataran rendah dengan ketinggian  500 – 700 meter dari permukaan laut.
  Adapun wilayah Desa Pakraman Bebadem Kedesaan Dan Kecamatan Bebadem sesuai dengan awig-awig adat desa setempat yakni : sargah I  palet 4 pawos 1 mengenai wawengkon: Banjar Adat Desa; Banjar Adat Kayuputih; Banjar Adat Nagasari; Banjar Adat  Tunggak; Banjar Adat  Tengah; Banjar Adat Dukuh; Banjar Adat Tihingan Kangin; Banjar Adat Tihingan Kauh; Banjar Adat Tihingan Tengah.
Awig-awig adat desa setempat yakni : sargah I  palet 2 pawos 1 wewidangan :
a.       Sisi Kangin / Timur   Tukad Krekuk, Desa Adat Liligundi, Tohpati dan Desa Jungsri
b.      Sisi Kelod / Selatan  Pakraman Kastala dan Desa Papung
c.       Sisi  Kauh / Barat  Cingcing Buu Tukad  Dalem dan Desa Adat Sibetan
d.      Sisi Kaler / Utara  Rurung Pengalu, Desa  Adat Sibetan
           Wilayah daerah Desa Bebandem beriklim sub tropis, sedangkan pada umumnya mengalami musim hujan dari bulan Oktober sampai dengan bulan April. Akan tetapi, musim kemarau dari bulan April sanpai dengan bulan Oktobr, temparatur di wilayah ini minimal  25 oC – 27 oC.
            Keadaan curah hujan di Desa Bebandem relatif sedang  dengan curah hujan rata-rata 2907 mm / tahun. Desa Bebandem ini memiliki potensi yang cukup baik untuk lahan pertanian baik persawahan maupun perkebunan, mengingat penduduk Desa Bebandem adalah sepertiga lebih  sebagai petani,  mencapai 85 % dari jumlah penduduk yang ada.

Sabtu, 23 Juli 2016

Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang

Nyoman Santosa negak di abinge sambilanga ngetis. Suryane
suba lingsir, suba minggek kauh, nanging panese ngenter
kabebeng gulem uli kangin. Angine milu buduh. Saget dedeh,
saget baret griang-griung. Dikenkene mapulekan ngampehang
don kayune tuh sambeh mabrarakan kema mai. Kato masih
kenehne Nyoman Santosa, bingung paling, buyar buka gedahe
pantigang. Sedih kenehne ningehang pitutur memenne tuara
maang ngalanturang sekolahanne. Nirdon rasanne ia ngietang
malajah, nganti maan bintang pelajar tingkat Sekolah Dasar,
nanging pamuputne nyangklek tuara nyidaang ngalanturang
sekolahanne, baan lacurne tuara ada anak nanggung. Pitutur
gurunne dugas perpisahane tur magiang ijazahe, sanget
ngaptiang apang muride makejang nerusang malajah sasidan-
sidan, sateked-tekede baan nutug ngalih kabisan. Apa buin
jani suba liu ada sekolahan, tongos malajahang raga apang
mani puan tusing maselselan. Akuda baana ngasih-asih
memenne, nanging Men Madu tetep cutet pasautne, tusing
nyidaang mekelin pianakne lakar nerusang sekolahanne ka
kota. Ento awananne Nyoman Santosa sedih. Yadiapin keto ia
tusing engsap ngarit sambilanga ngangonang sampinne ane
sedeng ngelah godel cenik. Sampinne iteh ngamah padang
disisin telabahe. Godelne bejit malaib kema mai, cara tusing
rungu teken kasedihanne Nyoman Santosa negak nyiksik awak
ngalih upaya mangdene nyidaang nerusang sekolahanne.
Busan-busan ia nolih cekelan padangne marerod di
pundukane, cara muride mabaris ngantiang pituduh gurune
nunden macelep ka kelase malajah. Ento awananne Nyoman
Santosa bangun, nuduk padange tur penpena ka keranjange
dadi ategen. “Guru…..guru”, keto masliaban di kenehne. Saget
tumbuh kapastian kenehne lakar nerusang sekolahanne ka
S.G.B., sawireh sekolahane merluang guru ane lakar
ngajahang teked ka desa desa. Sekolah guru maan ikatan
dinas, dadinne tusing perlu memenne tuyuh-tuyuh ngalihang
bekel masekolah. Buina sasubane tamat S.G.B. pasti ia lakar
dadi guru. Nah, baanga, tusing baanga teken memenne,
dinane mani ia lakar luas ka Klungkung naftar di S.G.B. Keto
kaputusan kenehne, Nyoman Santosa nyaluk tegenanne tur
nyemak sampinne kadandan mulih. Godelne malaib didori
ngender inanne. Nyoman Santosa bingkih, bengkuk tundunne
negen padang. Nanging ia tan marasa baat baan leganne
nepukin sampinne mokoh magenyolan.
Yen terimana di S.G.B., sampinne lakar pakadasanga malu
teken panyakape gumentos nyandang adep, anggon meli
sepeda utawi anggon menahin umah. Tan marasa di jalan,
tau-tau ia suba teked jumah. Guleme sayan matuptup. Kerug
kelepeg saling sambungin. Busan-busan kilap lan tatite
maceder ngresresin manah. Sasubane suud madaar, Nyoman
Santosa negak di ampike sambilanga nyebit tiing. Memenne
negak di arepanne iteh ngulat sok. Adinne jumah meten
gendang-gending macecangkriman sambilanga malajah.
Ujane sayan bales. Sreyokanne malaib-laib ampehang angin.
Damar templeke moyagan kebar-kebir katempuh angin
nanging tuara ja mati.
Sawatara ajam ujane nget. Langite masriak galang. Katak lan
enggunge pesu ngongkek pacelengkung. Paut teken ketelan
capapane sayan langah kletak-kletik nepen don-donane ane
ulung di natahe. Gendingan adinne siep, saget suba
nyelempang masare leplep gati. Nyoman Santosa busan-
busan nyarere memenne lakar ngomongang ujud kenehne
lakar masekolah ka Klungkung. Nanging ia tuara nyidaang
pesu munyi. Ento awananne memenne matakon aris : “Man,
tingalin meme cai jag osah tuara neh negak. Apa ane ada
kenehang, sakitang? Orahang ja teken meme”.
Nyoman Santosa nolih memenne. Nanging tonden pesu
munyinne, enggalan yeh paningalanne maluan ngetel. Laut ia
ngeling sigsigan. Memenne dadi bareng sedih tumuli ngurut-
ngurut pianakne, saking asih.
“Apa sujatine kenehang cai, Man?”
Nyoman Santosa mekek angkihanne, ngelekang elingne apang
nyidaang masaut. “Meme, da nyen meme pedih teken tiang,
sawireh keneh tiange ten dadi baan tiang neptepin. Tiang lakar
nerusang masekolah ka Klungkung. Yen meme tusing nyidaang
mekelin, depang tiang lakar masuk di S.G.B. Sekolah guru ane
maan sangu uli Pamerintahe. Yen tamat uli S.G.B buin pidan
tiang lakar dadi guru. Dumadak apang tiang maan tugas
jumah deriki” keto munyinne Nyoman Santosa sada alon
ngasih-asih teken memenne.
“Oooh, dadinne cai tusing ngidepang munyin memene, apang
jumah ajak meme bareng lacur, keto? Awak wang tani,
kanggoang ja dadi kutun pundukan. Suba orahang meme, cai
sing ja lakar dadi Punggawa apa. Jani nagih dadi guru. Nah,
lamun keto kanggona keneh Nyoman padidi. Adep suba
sampine anggon bekel luas. Meme sasidan-sidan lakar ngajak
adine jumah. Lamun nu koangan, adep suba carike ane a-don
kelor ento. Anak cai ngelahang, patamaina teken bapane.”
Keto munyin memenne sada sogol tumuli bangun nglaut
mulihan, magablug masare nyangkutin adinne, Ketut Shanti.
Nyoman Santosa negak mapangsegan, bengong tan
maklisikan ningeh munyin memenne buka keto. Bengong-
bengong inget teken lacur, tur sedih inget teken tusing ngelah
bapa. Ngetel yeh paningalanne mawastu nerawang kenehne
inget teken ane suba-suba liwat.
Sujatinne, memenne kaliwat tresna teken dewekne, wireh
tusing ada nyen buin ane tohina teken memenne sajaba
Nyoman Santosa ajak adinne, Ketut Shanti. Bapanne suba
matinggal tusing makelosasubane belinne makadadua mati
karebut, masiat baan marebutin Gusti Ayu Adi.
Dugas ento belinne mara matuuh pitulas tiban, kembar,
madan Wayan Madu lan Made Madi. Makadadua jemet
magarapan tur liu ngelah timpal. Mula ririh tur bias ngalap
asor, mawanan Wayan Madu piliha teken krama Subake dadi
Klian Subak, ngentinin bapanne.
Made Madi briyukina teken truna trunine dadianga Ketua
Rukun Truna-truni banjar Darmajatine. Subak Buntehe kasub
baan trepti pembagian yehne. Teked ka tanggun telabahe rata
carike maan yeh, wawanan tusing ada ane nulak sumur
Empelane ane malu nganggon batu guling, jani suba magenti
baan dam beton tur masemen nyalig. Sabilang cakangan
muang pateluan lan pempatan telabahe nganggo beton tur
padum yehe miturut linggah carike suang-suang. Gotong
royong karma subake mawuwuh-wuwuh. Mamula, manyi,
makejang subake ane ngarapin. Upahnyane kakumpulang di
lumbung subake, bareng teken cacakan suwinih lan urunan
binih. Dadandane lan pipis pacikreme kanggon kembulan
usaha simpan pinjam. Ngataun sabilang Usaha Dimal utawi
Usaba Sri belianga celeng, purak dum buronang anggon ngawe
banten. Sajawaning ento sabilang nyumunin ngeek katuju
sasih karo, subake mapag yeh sambil malegan-legan
matimpungan be guling, sate, lan lawardi Bedogol empelane
ajak a-subak luh muani, cerik kelih pada girang. Lumbung
subake liu ngelah simpenan padi. Karma subake ane tusing
ngelah binih, kakurangan sangu utawi ngelah gae nadak,
nganten, kematian dadi nyilih malu di lumbung. Di subane
manyi mara ngulihang baan padi mimbuh panakne acekel ane
selae butus, utawi apersen yen itung baan pipis. Ento
awananne karma subake pada manut teken sapangarah
Wayan Madune. Jaga bayane ngalanglang di carike, magilir
sabilang peteng dadua-dadua. Ingon-ingon ane ngaricakin
pamula-mulaane, kakenen dadandan Rp100,- Sajawaning ento
buin wenang masilihin manut karusakanne. Ento awananne
carik wawengkon subak Buntehe trepti, sumungkemteken
awig-awig subake.
Duaning Made Madi ane satata getar sumringah, teteh tutur
lan alep danglep idepne, pascat tanpa cacat, dadianga
pamucuking truna-trunine di Banjar Darmajati. Yen tuuh saja
nguda, apa buin among tamatan Sekolah Dasar. Nanging buat
katajepanne tan bina kadi ipun I lalang. Cucud rajin malajah
ring sang wikan. Buku-buku Agama, wariga, kakawin lan
Usada mapinti di kamarne. Apa buin bapanne mula ketah,
kasumbung balian ane siket tur darma asih. Tan ngitung
peteng lemah lan ujan angin yen suba nulungin anak sakit.
Ento awananne matadah cara tuara rungu teken umah padidi
tuduh, uwug pacetel maraab langit. Sabilang mulih tengah
lemeng satata kurenanne ngomel; pepes intipa teken panak-
panakne luh muani raraosanne sengit.
“Bapanne, sasai kene dogen luas semengan mulih peteng.
Buin pidan bapanne maan ngajah pianak, mituturin ane madan
beneh pelih.”
“Ah, kenkenang beli nyen, Man. Semengan beli suba ka carike
magarapan, mara makire mulih saget ada anak teka ngidih
ubad. Beli amung matulung baan keneh. Dini tonden ada
Dokter, apa buin Rumah Sakit. Perawate di Poliklinik tonden
nyidaang nekain anake sakit di desa-desa ane joh di bukite lan
di carike.”
“Beneh, yen perawat utawi dokter ane magajih buina
madagang ubad tusing nyidaang nelokin anak sakit, ngengken
dadi beli ane maan sen tepu, gasek? Buina ……….
(masambung…………

Kamis, 19 Februari 2015

Sejarah Hubungan Desa Bugbug dengan Desa Bebandem, Datah , Ngis dan Jasri



Om Awignamastu Nama Sidham
              Ratu Bhatara Gede Gumang, Bhatara Lingsir samalih Bhatara Bhatari Sesuunan tityang sinamian, matur tabe pakulun mangda sampunang Ratu Bhatara menggah ring tityang santukan sampun langgana ring Parab I Ratu. Ngelungsur sinampura santukan pedekane kalintang tambet pisan.
             

Dikisahkan Bhatara Gede Gumang yang berstana di Pura Gumang mempunyai putra putri antara lain: Bhatara Gede Manik Sakti, Bhatara Ayu Made, Bhatara Ayu Nyoman, Bhatara Ayu Ketut dan Bhatara Ayu Pudak.
              Bhatara Ayu Made dipersunting oleh oleh Bhatara Gede yang berstana di Pura Puseh Pakraman Bebandem. Bhatara Gede sebenarnya sangat mencintai Bhatara Ayu Nyoman, tetapi Bhatara Ayu Nyoman tidak mencintainya. Bhatara Ayu Nyoman sangat mencintai Bhtatara Gede Pasisi yang berstana di Pura Mastima Desa Pakraman Jasri. Mendengar beliau akan dilamar oleh Bhatara Gede Puseh Bebandem, lalu Beliau melarikan diri kepada Bhatara Gede Pasisi yang berstana di Pura Mastima Desa Pakraman Jasri. Bhatara Gede Pasisi segera melamar Bhatara Ayu Nyoman, yang selanjutnya berstana di Desa Pakraman Jasri.
              Karena itulah Bhatara Gede Manik Sakti menjadi marah dan kecewa kepada Bhatara Ayu Nyoman dan Bhatara Gede Pasisi. Untuk menutupi kekecewaan itulah maka Bhatara Ayu Made yang dibujuk oleh Bhatara Gede Manik Sakti untuk menggantikan Bhatara Ayu Nyoman agar mau menikah dengan Bhatara Gede Puseh Bebandem. Bhatara Ayu Made bersedia menjadi permaisuri Bhatara Gede Puseh Bebandem sebagai Ardhareswari. Asalkan Bhatara Gede Manik Sakti juga bersedia mendampinginya dan menetap berstana di Pura Puseh Bebandem.
              Mendengar syarat yang dikasih Bhatara Ayu Made, lalu Bhatara Gede Manik Sakti tanpa berpikir panjang mau mendampingi Bhatara yang akan mejadi permaisuri ( ardhanareswari) dengan Bhatara Gde Puseh Bebandem, untuk bersama-sama menetap di pura Puseh Bebandem. Karena itulah Bhatara Manik Sakti selanjutnya menetap di Pura Puseh Bebandem dan diberikan Bhiseka atau sebutan Bhatara Gede Bandem.
              Bhatara Ayu Ketut ardhanareswari dengan Bhatara Gede Dangin yang berstana di desa Pakraman Ngis. Sedangkan Bhatara Ayu Pudak dipersunting oleh Bhatara Bagus Wayan putra dari Bhatara Lingsir Puseh yang berstana di Pura Puseh Desa Pakraman Datah.
              Karena kisah inilah Desa Bugbug dan Desa Bebandem, Datah, Ngis dan Jasri masih ada hubungan saat ada pengaci-aci di Bugbug.